Pahlawan Nasional Ignatius Slamet Riyadi (Totalitas Pada Karier Militer)


 

Bulan Nopember sangat sayang bila dilewatkan begitu saja.Bagi umat Katolik di Indonesia bulan Nopember mempunyai arti sangat penting karena Gereja dan Pemerintah Indonesia sama-sama mengenang arwah para pendahulu kita. Kala Gereja mengenang arwah bagi umat siapa jasa atau dikenal dengan Bulan Arwah namun Negara menghormati arwah khusus para pahlawan bangsa atau dikenal dengan Hari Pahlawan.

Hari pahlawan 2007 diawali dengan penganugrahan lima pahlawan nasional dan salah satunya Letkol Ignatius Slamet Riyadi sebagai Pejuang 45 dari Jawa Tengah. Dengan demikian Pemerintah memberikankan penghormatan dan penghargaan yang tinggi kepada salah satu warga bangsa. Oleh karena Letkol Ignatius Slamet Riyadi yang akrab dipanggil Pak Met itu adalah umat Katolik maka bertambah satu lagi tokoh Katolik yang dianugerahi Pahlawan Nasional. Yang menjadi pertanyaan apa dasar Pak Met memperoleh gelar pahlawan? Apakah karena beliau seorang Katolik atau karena dedikasi terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ? dan hikmah apa yang dapat kita petik dari kehidupan Pak Met ini ?

Totalitas Karier di bidang Militer

Slamet Riyadi yang dulu namanya Sukamto lahir di Donokusuman Solo, 28 Mei 1926 putra dari Idris Prawiropralebdo, seorang perwira anggota legium Kasunanan Surakarta. Mengenyam pendidikan di HIS kemudian MULO Afd B dan pada akhirnya ke Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT). Sebagai lulusan terbaik dan berhak menyandang ijasah navigasi kemudian ditambah beberapa kursus navigator maka beliau menjadi navigator dari kapal kayu yang berlayar antar pulau Nusantara

Dengan kemampuannya sebagai navigator ditambah dengan masuknya penjajah Jepang ke Indonesia khususnya di Solo dan Yogyakarta (Maret 1942) maka jiwa patriot membela ibu pertiwi berkobar. Dengan keberanian sebagai pemuda yang ketika itu usianya belum genap 20 tahun mengobarkan pemberontakan dan melarikan sebuah kapal kayu milik Jepang. Usaha Ken Pei Tai (Polisi Militer Jepang) untuk menangkapnya tidak pernah berhasil , bahkan setelah Jepang bertekuk lutut. Slamet Rijadi berhasil menggalang para pemuda, menghimpun kekuatan pejuang dari pemuda-pemuda terlatih eks Peta/Heiho/Kaigun dan merekrutnya dalam kekuatan setingkat Batalyon , yang dipersiapkan untuk mempelopori perebutan kekuasaan politik dan militer di kota Solo dari tangan Jepang (Slamet Rijadi diangkat sebagai Komandan Batalyon Resimen I Divisi X ).Dari sini kehidupan sebagai militer terus berlanjut. Pendidikan militer ia dapatkan dari kehidupan riel di tengah kancah merebut kemerdekaan bukan melalui teori-teori militer di bangku pendidikan ketentaraan.

Kejadian heroik kembali ditunjukan Slamet Riyadi yaitu pada peristiwa saat akan diadakannya peralihan kekuasaan di Solo oleh Jepang yang dipimpin oleh Tyokan Watanabe yang merencanakan untuk mengembalikan kekuasaan sipil kepada kedua kerajaan yang berkedudukan di Surakarta , yaitu Kasunanan dan Praja Mangkunagaran, akan tetapi rakyat tidak puas. Para pemuda telah bertekad untuk mengadakan perebutan senjata dari tangan Jepang, maka rakyat mengutus Muljadi Djojomartono dan dikawal oleh pemuda Suadi untuk melakukan perundingan di markas Ken Pei Tai (polisi militer Jepang) yang dijaga ketat. Tetapi sebelum utusan tersebut tiba di markas, seorang pemuda sudah berhasil menerobos kedalam markas dengan meloncati tembok dan membongkar atap markas Ken Pei Tai, tercenganglah pihak Jepang, pemuda itu bernama Slamet Rijadi.

Setelah Jepang terusir dari Indonesia ternyata bukan berarti merdeka seratus prosen tetapi Belanda tetap ingin menjajah Indonesia dan hal ini dikenal dengan Clash II. Di tengah-tengah melawan Belanda di tahun 1948 pecah pemberontakan PKI-Madiun dan saat itu ketaatan Slamet Riyadi kepada atasannya yaitu Gubernur Militer II Kolonel Gatot Subroto untuk melakukan penumpasan ke arah Utara, berdampingan dengan pasukan lainnya, operasi ini berjalan dengan gemilang.

Dalam palagan perang kemerdekaan II, Slamet Rijadi dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Kolonel, dengan jabatan baru Komandan “Wehrkreise I” ( Penembahan Senopati )yang meliputi daerah gerilya Karesidenan Surakarta, dan dibawah komando Gubernur Militer II pada Divisi II , Kolonel Gatot Subroto. Dalam perang kemerdekaan II inilah Let.Kol. Slamet Rijadi, membuktikan kecakapannya sebagai prajurit yang tangguh dan sanggup mengimbangi kepiawaian komandan Belanda lulusan Sekolah Tinggi Militer di Breda Nederland. Siang dan malam anak buah Overste (setingkat Letnan Kolonel ). Van Ohl digempur habis-habisan, dengan penghadangan, penyergapan malam, sabotase . Puncaknya ketika Let.Kol Slamet Rijadi mengambil prakarsa mengadakan “serangan umum kota Solo” yang dimulai tanggal 7 Agustus 1949, selama empat hari empat malam. Serangan itu membuktikan kepada Belanda, bahwa gerilya bukan saja mampu melakukan penyergapan atau sabotase, tetapi juga mampu melakukan serangan secara frontal ketengah kota Solo yang dipertahankan dengan pasukan kavelerie persenjataan berat, artileri pasukan infantri dan komando yang tangguh. Dalam pertempuran selama empat hari tersebut, 109 rumah penduduk porak poranda, 205 penduduk meninggal karena aksi teror Belanda , 7 serdadu Belanda tertembak dan 3 orang tertawan sedangkan dipihak TNI 6 orang gugur

Kejadian lain yang lebih menggugah rasa percaya diri bangsa ditunjukan kembali oleh Letkol Slamet Riyadi yaitu setelah terjadi gencatan senjata, dan pada waktu penyerahan kota Solo kepangkuan Republik Indonesia dari pihak Belanda (29-12-1949). Dari pihak Belanda diwakili oleh “Overste Van Ohl” sedangkan dari pihak R.I oleh Let.Kol. Slamet Rijadi. Ov.Van Ohl demikian terharu, bahwa Let.Kol. Slamet Rijadi yang selama ini dicari-carinya ternyata masih sangat muda . ” Oooh …Overste tidak patut menjadi musuh-ku…..” ,Overste pantas menjadi anakku, tetapi kepandaiannya seperti ayahku.

Kesuksesan Slamet Riyadi dalam bidang militer tidak membuat beliau sombong namun demikian dia pasrahkan segalanya kepada Allah Bapa dan itu ditunjukkan dengan kesadaran diri untuk di baptis dengan mengambil nama baptis Ignatius. Kehidupan Santo Ignatius sangat mirip dengan kehidup Letkol Salamet Riyadi. Santo Ignatius adalah salah seorang tentara yang membela kubu-kubu kota Pamplona terhadap serangan Perancis, yang menyatakan wilayah tersebut sebagai wilayah mereka dan berperang dengan Spanyol. Orang-orang Spanyol kalah jauh dari segi jumlah dan komandan pasukan Spanyol ingin menyerahkan diri, tetapi Ignatius meyakinkannya untuk bertempur demi kehormatan Spanyol kalau bukan demi kemenangan. Pada waktu pertempuran sebuah bom kanon mengenai Ignatius, melukai salah satu kakinya dan mematahkan kaki yang satu lagi. Karena mereka mengagumi keberaniannya, tentara-tentara Perancis tidak menjebloskannya ke penjara, melainkan mengusungnya kembali ke rumahnya untuk berobat, di puri Loyola.

Setelah di baptis kembali tugas sebagai militer sudah menunggu karena terjadi pemberontakan Kapten Abdul Aziz di Maksar dan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) yang dipelopori oleh Dr.Soumokil dan kawan-kawan (10 Juli 1950).

Pada saat menumpas pemberontak RMS di gerbang benteng Victoria, Ambon (4-11-1950) pasukan Pak Met berjumpa dengan segerombolan pasukan yang bersembunyi di benteng tersebut dengan mengibarkan bendera merah putih.Melihat bendera merah putih Letkol Iganatius Slamet Riyadi memerintahkan pasukannya untuk menghentikan penyerangan karena beliau yakin bahwa mereka adalah tentara Siliwangi. Untuk itu ia membuktikan sendiri dengan keluar dari panser, namun apa yang terjadi gerombolan tersebut bukan tentara Siliwangi tetapi para pemberontak RMS menghujani tembakan kearah Pak Met. Hari Sabtu 4 Nopember 1950 pukul 11.30 menghembus nafas terakhir dengan usia sangat muda belum genap 24 tahun.

Melihat perjalanan anak muda Ignatius Slamet Riyadi sangat beralasan kalau pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional karena sepanjang hidupnya hanya untuk negara tidak pernah memikirkan kepentingan pribadinya. Beliau sekali mementingkan pribadinya untuk menjadi murid Kristus dengan di baptis. Dengan demikian hidupnya diabdikan sepenuhnya untuk gereja dan negara Republik Indonesia. Bagi kaum muda saat yang tepat untuk mengenang kembali jasa para pahalawan bangsa. Sebab mengenang bertujuan menemukan motivasi, memiliki makna yang paling agung, (E. Martosujito PR, HIDUP 25 Nopember 2007)dan martabat yang paling tinggi Semoga menjadi teladan para pemuda.

 

 

 

 

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: