APP 2008 BENTUK PEMBELAJARAN PEMULIHAN LINGKUNGAN HIDUP

budi-waluyo.jpgDalam pendalaman iman APP 2008 bagian pertama pemandu memutarkan VCD tentang Sumber Air di Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi.Umat tertegun melihat kondisi hutan yang masih terjaga baik, dimana di dalamnya terdapat aneka flora dan fauna yang masih alami dan terjaga dengan baik. Sumber mata air jernih dan melimpah dapat terlihat dengan jelas. dan waktu pemandu APP menanyakan pada salah seorang anak bagaimana tanggapan atas isi dari VCD tersebut ? dengan spontan anak tersebut menjawab “sungguh ajaib”, karena alam yang indah tersebut sekarang ini masih ada. Seluruh umat yang hadir mengamini. Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya baik (bdk.Kej.1 : 25)

Namun demikian pada pertemuan berikutnya umat terheran-heran karena kondisi alam yang begitu indah telah dirusak oleh manusia. Hutan yang dulunya lebat sekarang jadi gundul. aneka binatang yang hidup berkembang biak dengan tenang diusik oleh manusia diburu diambil kulitnya, dagingnya ataupun dipelihara dengan kondisi alam yang berbeda dengan habitatnya. Sumber-sumber alam lainnya seperti barang tambang diambil sampai habis sedang bekas galiannya ditinggalkan begitu saja sehingga terjadilah kerusakan lingkungan.

Kerusakan Lingkungan dalam skala besar ini masih ditambah dengan perilaku sebagian besar manusia yang memperlakukan lingkungan hidup dengan semena-mena. “Kekerasan” terhadap lingkungan hidup tanpa sadar juga disumbang oleh perilaku sebagian besar manusia sehari-hari. Pengelolaan sampah yang buruk, sungai yang menjadi tong sampah besar bagi sebagian orang, “betonisasi” jalan dan bangunan-bangunan perumahan , hampir tidak menyisakan lahan hijau dan resapan bagi alam untuk bernafas dan memproduksi oksigen. Hal ini menjadi bukti bahwa manusi tidak setia dan cenderung menyeleweng dari tugas utamanya sebagai penerus karya ciptaan Allah. Allah sudah mempercayakan bumi dan segala isinya kepada manusia untuk dikelola dengan baik dan bijaksana, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di atas bumi (bdk,Kej,28b; Yer.27:5b).

Egoisme segelintir manusia yang mengeksploitasi alam untuk kepentingan diri berdampak kehancuran masa depan manusia lainnya dan juga tentunya lingkungan hidup itu sendiri.Aneka bencana alam yang akhir-akhir ini terjadi menjadi refleksi bagi kita semua, bagaimana Allah memperingatkan umat manusia pada jaman Nuh. Banyak kejahatan terjadi dan akibatnya adalah bencana alam, sehingga Allah hanya memilih Nuh dan kerabatnya untuk diselamatkan, karena masih mau mendengarkan Allah.

Allah sungguh menyesal karena telah menciptakaan manusia (bdk, Kej, 6:6). Tuhan sudah bosan melihat tingkah kita (syair lagu Ebiet)

Alam dan lingkungan kita sedang sakit dan menderita. Yang membuat sakit dan menderita adalah manusia. Manusialah yang menjadi kunci penyelesaian masalah lingkungan hidup, baik sebagai pribadi maupun mahluk sosial. Oleh karenanya manusia ditantang untuk mengadakan transformasi diri dan perilaku terhadap lingkungan hidupnya, kalau dunia ingin sehat dan terpelihara. Transformasi ini akan terwujud kalau dalam diri manusia ditumbuhkan benih kesadaran akan kedudukan dan peran lingkungan hidup dalam dunia kita (Dr. William Chang, OFMCap, Moral Lingkungan Hidup, 2001)

Gereja sebagai tanda kehadiran Allah, tidak hanya berbicara tentang masalah-masalah kemanusiaan semata tetapi juga masalah-masalah lingkungan hidup. Contoh konkrit telah diperlihatkan oleh Paus Paulus VI dan Paus Yohanes Paulus II. Paus Paulus VI dengan tegas mengatakan bahwa manusia dan lingkungan alamiahnya saling terpaut dan perlunya pembatasan dalam menggunakan kekayaan alam.Ketegasan tersebut untuk mengingatkan manusia akan krisis lingkungan hidup dan acaman, akibat-akibat yang ditimbulkan oleh polusi industri dan mendesak sejumlah perubahan tingkah laku kita yang boros dan mengaitkan lingkungan hidup dengan perkembangan dalam perspektif kerja sama internasional. Hal senada juga disampaikan Paus Yohanes Paulus II malahan beliau melontarkan kritik tajam terhadap sikap manusia dalam memanfaatkan kekayaan alam. Seharusnya manusia menjadi kolaborator dengan Tuhan dalam karya penciptaan dan bukan mengganti kedudukan dan peran Tuhan. Lebih jauh beliau konsern pada perlindungan dan penyelamatan keadaan ekologi manusiawi, melindungi jenis-jenis hewan yang terancam punah dan keseimbangan umum bumi, serta menitikberatkan pada dimensi tanggung jawab manusia.

Pada akhirnya Allah mengharapkan supaya manusia dan alam tidak hancur. Dia mengutus PuterNya untuk menyelamatkan manusia dan seluruh alam ciptaannya. Perutusan Putera Allah diwariskan kepada para rasul dan kita sebagai murid-muridNya. Kita diutus untuk membuat aksi konkrit berkaitan dengan lingkungan hidup dan dimulai dari diri pribadi. Perlu kita pahami juga bahwa demi hidup dan kesejahteraan, umat manusia boleh mengolah kekayaan alam sambil memperhatikan beberapa hal penting yang tak dapat diabaikan seperti bertindak secara bertanggung jawab, memikirkan masa depan geberasi mendatang, dan mengembangkan sikap cinta lingkungan Semuanya itu tidak lain dalam rangka memulihkan, mengelola, dan memelihara lingkungan alam demi hidup sejahtera yang sejati sebagai wujud pertobatan kita pada Paska 2008 ini. Selamat Paska.

 

Daftar Pustaka :

1. Kerangka Dasar Aksi Puasa Pembangunan 2008, Kesejatian Hidup dalam Pemberdayaan

Lingkungan, Komisi PSE KWI, 2007

2. Chang, William. Moral Lingkungan Hidup, Yogayakarta : Penerbit Kanisius, 2001

***********

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: