PERUBAHAN IKLIM SALAH SIAPA ?

budi-waluyo.jpg

 

Secara teologi Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk menguasai bumi seisinya ditambah dengan burung-burung di udara dan semua binatang melata. Konsep teologis semacam ini membuat manusia menjadi Raja dari semua mahluk yang lain. Setelah manusia berkembang dengan masuknya kepentingan lain yaitu ekonomi maka keserahkan itu semakin menjadi-jadi. Alam baik darat, laut dan udara dieksploitir sebanyak-banyak dengan biaya yang sedikit memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memasukan atau melupakan pola pikir ekologi. Akibatnya alam mengalami krisis. Apa yang dapat dilakukan kalau sudah demikian parah rusaknya alam ini? Apakah masih dapat untuk tempat kehidupan mahluk ciptaan Tuhan termasuk manusia ini ? Salah siapa ini ?

Dari prolog di atas penulis ingin menyampaikan pesan bahwa hidup manusia dimulai dari berteologi kemudian berekonomi dan mengorbankan ekologi. Maka setelah alam ini mengalami penurunan manfaat untuk kehidupan manusia dan bila manusia masih ingin tetap bertahan hidup maka polanya harus diubah. Berteologi yang memperkuat ekologi dan mengabaikan prinsip-prinsip ekonomi.Itulah satu-satunya jalan. Maka dari itu negara maju dan negara berkembang bersama-sama mengeluarkan anggaran belanja yang jumlahnya tidak kecil untuk memperbaiki alam.Salah satu cara mempertemukan negara maju dan negara berkembang adalah adanya pertemuan dalam Konferen Tingkat Tinggi tentang Perubahan Iklim.

Tahun 2007 ini akan diakhiri dengan adanya pertemuan akbar Konferensi Internasional mengenai Perubahan Iklim yaitu pertemuan tingkat tinggi atau konferensi antar pihak (Thirteenth Session of the Conference of the Parties atau COP 13) dari United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dan Konferensi dari Pertemuan antar pihak Protokol Kyoto (Third Session of the Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to the Kyoto Protocol atau CMP 3) yang akan dilakukan di Bali pada tanggal 3 – 14 Desember 2007. Rencana pertemuan internasional tersebut akan dihadiri sekitar 10.000 peserta dari 189 negara, ditambah wartawan sekitar 2.000 orang dari berbagai negara di dunia.

PBB dengan UNFCCC merasa sekarang saat yang tepat untuk mengadakan konferensi tersebut karena sampai sekarang pengaruh dari Protokol Monteral (1985) belum banyak dirasakan pada hal isi dari protokol tersebut sangat mengikat banyak negara terutama negara-nagara maju. Pada Protokol Monteral sebagai dasar KTT Bumi di Rio Jeniaros (1992) menegaskan bahwa penetapan batas dasar bagi negara-negara industri untuk mengurangi pemakaian enersi zat fosil yang bakal meningkatkan emisi CO2 Gas Rumah Kaca (GRK) ke angkasa. Akan tetapi tetap saja negara-negara industri tidak bersedia menerapkan persetujuan yang dianggap mampu merusak industri dan perekonomia negaranya.

Protokol Monteral semakin terlihat tidak berfungsi dengan adanya ketegasan Amerika Serikat untuk tidak menyetujui Deklarasi Bumi dari KTT Bumi 1992 khususnya pada pasal yang menetapkan bahwa negara-negara industri kaya harus mengurangi emisi Gas Rumah Kaca-GRK (gas yang berasal dari enersi fosilnya). Selain itu mereka harus pula membantu negara-negara berkembang untuk melaksanakan pembangunan yang ramah lingkungan baik berupa dana bantuan maupun alih teknologi.

Setelah KTT Bumi 1992, kemudian UNEP (United Nations Environmental Program) mengadakan lagi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) 1997 dengan tuan rumah Jepang di Kyoto. Hasil yang didapat adalah berupa Protokol Kyoto. Protokol Kyoto yang dilahirkan setelah melalui perdebatan sengit ini bertujuan menurunkan suhu panas bumi dengan mengurangi atau menghilangkan produksi GRK. Tiap negara (industri kaya) diwajibkan untuk menurunkan prosentase emisi GRK-nya ke ruang udara/angkasa.Yang melegakan adalah pada akhirnya Protokol Kyoto mendapat kesepakatan internasional dengan sasaran pokok mengekang buangan GRK dan mulai diberlakukan 15 Februari 2005. Hal itu membutuhkan tujuh tahun setelah pengesahannya pada konferensi PBB (UN Environmental Program) di Kyoto 1997. Berdasarkan Protokol Kyoto, negara industri diharuskan mengurangi buangan GRK dan karbon dioksida mereka dari tahun 1990 dengan tingkat rata-rata sebesar 5,2 persen antara 2008 dan 2012. Mengingat dampak terbatas kesepakatan tersebut, para pendukungnya sudah melangkahinya dan telah membahas kebijakan pasca Protokol Kyoto untuk tahun 2013 dan seterusnya.Yang menjadi keprihatinan berkaitan dengan Protokol Kyoto adalah sikap negara-negara maju. Negara maju tidak memenuhi target Protokol Kyoto, antara tahun 1994 dan 2004 jumlah emisi karbon dioksida di negara maju, kecuali Jerman, Polandia, Rusia, naik 88 persen. Lebih jauh negara maju meminta negara berkembang juga mengurangi emisinya tanpa alih teknologi dan pendanaan. (Emil Salim,Kompas,27/11/07). Perlu diketahui bahwa masa berlakunya Protokol Kyoto akan berakhir pada tahun 2012.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah adanya laporan dari The Physical Science Basis bahwa semakin meningkatnya aktivitas manusia maka berdampak pada peningkatan konsentrasi gas CO2 (karbondioksida) hingga mencapai 379 parts per miliion (ppm) sedangkan kondisi stabil antara 180 ppm sampai 300 ppm. Untuk gas CH4 (metana) kini konsentrasinya lebih besar dari 1.774 parts per billion (ppb) pada kondisi stabil antara 320 ppb sampai 790 ppb. Selain dua gas tersebut yang cenderung dan signifikan memperngaruhi efek rumah kaca menurut UNFCCC ada enam gas termasuk CO2 dan CH4 yaitu nitro-oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HF-Cs), perfluorokarbon (PFCs), dan sulfurheksafluorida (SF6). Keenam gas tersebut dikenal dengan Gas Rumah Kaca (GRK). Akibat adanya GRK yang tidak terkendali adalah adanya pemanasan global dan tentunya saja semuanya itu mengancam kehidupan.

Terkait dengan upaya penekanan pemanasan global , memasuki tahun ke-13 konferensi perubahan iklim , Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah untuk menyelenggarakan pertemuan internasional. Untuk mempersiapkan pertemuan perubahan iklim di Bali, terlebih dahulu diadakan Pertemuan Informal Tingkat Menteri untuk Perubahan Iklim Informal (Ministerial Meeting on Climate Change) di Istana Bogor pada tanggal 24-25 Oktober Pertemuan ini dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhono dan dihadiri oleh delegasi dari 35 Negara dan UNFCCC. Dalam pertemuan tersebut Presiden Yudhoyono mengajak seluruh delegasi untuk bersama-sama mengatasi perubahan iklim dengan menjadikan pertemuan ini sebagai dasar bagi pengambilan keputusan dimulainya suatu proses di COP 13 yang dikenal sebagai Bali Road Map. Lebih jauh Presiden menegaskan bahwa penyebab utama perubahan iklim adalah manusia dan tidak perlu diperdebatkan lagi seiring dengan keluarnya laporan dari Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) keempat.Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menangani permasalahan ini dengan tegas, baik di tingkat lokal, regional maupun internasional.

Sebagai Menteri Lingkungan Hidup RI sekaligus sebagai tuan rumah Rachmat Witoelar akan menjadi Presiden Konferensi Antar Pihak (COP) 13 pada UNFCCC di Bali nanti. Pertemuan ini membahas tiga hal penting yaitu Building Blocks for a Future Framework (Membangun suatu Kerangka Masa Depan), Delivering of the Building Block (Melahirkan Blok Bangunan), dan the Bali Road Map (Bali Peta Jalan).

Kesepakatam umum dalam building blocks adalah memperluas kerangka pasca 2012 dan memberikan proporsi yang adil bagi adaptasi dan mitigasi serta isu khusus seperti deforestasi dan degradasi hutan.

Penanganan perubahan iklim tetap mengacu pada kerangka yang sudah ada, yaitu UNFCCC dan Protokol Kyoto; negara-negara Annex 1 tetap mengambil peran utama; dan tercapainya kesepakatan bahwa kerangka multilateral pasca 2012 harus selesai pada 2009 serta menjamin keberlanjutan clean development mechanism/ CDM. Dalam konteks ini dibutuhkan konsensus yang lebih luas mengenai pentingnya Bali Road Map dalam rangka menuju kerangka pasca 2012 tersebut

. Indonesia, selaku tuan rumah Konferensi ke-13 UNFCC, akan membawa tujuh agenda dalam pertemuan tersebut, yaitu adaptasi, migitasi, mekanisme pembangunan yang bersih (clean development mechanism/CDM), mekanisme finansial, pengembangan teknologi dan kapasitas, pengurangan deforestasi (perusakan hutan), serta pasca-2012 atau pasca-Protokol Kyoto.

Satu dari tujuh agenda yang diajukan Indonesia adalah mekanisme finasial. Maka dari itu dalam Pertemuan UNFCCC di Bali tersebut terdapat TOR (Terms of Reference) dialog antar Menteri Keuangan atas inisiatip Pemerintah Indonesia yang mengagendakan tiga pokok bahasan antara lain pertama Beban Ekonomi yang diakibatkan adanya perubahan iklim ( Economic Magnitude and Consequences of Climate Change ), kedua tentang Instrumen Kebijakan untuk daerah yang mengalami perubahan iklim ( Policy Instruments for Addressing Climate Change ) dan yang ketiga Sasaran hasil Umum dari pada isu-isu yang berhubungan dengan perubahan iklim ( Common Objectives on Climate Change Finance Issues ). Dalam konteks ini kelihatan bahwa perubahan iklim tidak diatasi dari teknologi semata tetapi juga harus dialkukan dengan pendekatan ekonomi, karena korban dari perubahan iklim banyak menimpa pada negara-negara berkembang seperti naiknya permukaan laut akibat pemanansan global akan menenggelamkan Negara kepulaun (Maladewa) sedangkan Belanda yang negaranya di bawah permukaan laut tidak akan tenggelam karena memiliki teknologi. . Lebih-lebih sistem pasar gagal mengakomodasi maslah lingkungan sehingga proses ekonomi meninggalakan persolan serius, seperti penipisan lapisan ozon, kehancuran keragaman hayati dan perubahan iklim, serta membuat semakin memburuknya situasi kemiskinan di negara-negara berkembang.

Satu solusi untuk memecahkan permasalahan perubahan iklim tersebut diatas adalah antara negara maju dan negara berkembang duduk bersama untuk dapat mewujudkan suatu zona kesepakatan seperti yang diharapkan Presiden SBY yaitu terciptanya zone of possible agreement (zona kesepakatan) yang sekaligus kerangka dasar kesepakatan baru untuk menggantikan Protokol Kyoto yang mandatnya akan segera berakhir.

Banyak pemimimpin dunia berharap banyak akan keberhasilan Pertemuan Bali seperti Presiden Brasil Luis Inacio Lula da Silva. Beliau menegaskan, apa yang sudah dilakukan masyarakat internasional selama ini belumlah cukup. “Kita perlu menyusun lebih banyak target yang ambisius menghadapi ancaman perubahan iklim global,”, Emir Qatar, Sheik Hamad Khalifa Al-thani. “Kami akan mendukung seluruh upaya untuk mencapai kesinambungan pembangunan di tengah ancaman perubahan iklim global, Presiden Polandia Lech Kaczynski menyatakan keyakinannya bahwa pertemuan UNFCC akan mencapai suatu solidaritas yang lebih tinggi, terkait penanganan isu perubahan iklim. “Bagi Polandia, seruan ini adalah seruan untuk solidaritas. Sedangkan Menteri Lingkungan Kenya, David Mwiraria menegaskan perlunya langkah kolektif dunia untuk menyelamatkan lingkungan dan kehidupan manusia mendatang.

Selain harapan-harapan tersebut diatas Perdana Menteri Denmark Anders Fogh Rasmussen mengingatkan bahwa isu perubahan iklim boleh jadi proyek yang ambisius. Namun, tetap suatu hal yang realistis untuk dilakukan oleh seluruh pihak. Apalah artinya KTT perubahan iklim di Bali bila hanya sekedar isu tanpa diikuti program realistis untuk dilakukan seluruh pihak. Selamat berkonferensi.

*******

B Bahan Rujukan :

1. Siaran Pers

Panitia Nasional Konferensi PBB Untuk Perubahan Iklim

Pertemuan Informal Tingkat Menteri untuk Perubahan Iklim

23-25 Oktober 2007

2. RI Dan Kontribusi Pemanasan Global

3. United Nations Climate Change Conference Nusa Dua, Bali, Indonesia

3-14 December 2007

4. Terms of Reference

Ministry of Finance Initiated Dialogue at

United Nations Framework Convention on Climate Change

Conference of Parties 13

Bali, 10-11 December 2007

5. Kompas, 27 Nopember 2007

 

 

 

 

P

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: